Jangan Tunjukkan Muka Masam ke Anak Saat Pulang Kerja

Senin, 25/01/2010 11:40 WIB Vera Farah Bararah – detikHealth London,

Anak yang melihat orangtuanya pulang bekerja dengan kondisi tertekan akan membuatnya ikut tertekan. Orangtua yang selalu terlihat capek usai pulang kerja akan membuat anak kehilangan minat sekolah. Tanpa disadari, orangtua yang memaksakan dirinya bekerja terlalu keras di kantor dapat membahayakan sikap anaknya. Ini karena orangtua terkadang suka membawa tekanan dari kantor saat pulang ke rumah.

Sebuah studi menunjukkan ibu dan ayah yang terlalu keras bekerja ada kemungkinan membawa rasa kecewa dan kelelahannya ke rumah. Akibatnya, anak-anak menjadi lebih mudah khawatir, sinis terhadap nilai pelajaran dan ujian bahkan sulit untuk berkonsentrasi dan mudah lelah. Apalagi jika masalah tersebut sudah menyangkut keuangan. Anak yang mengetahui persoalan ini akan lebih buruk keadaannya.

Studi yang dilakukan oleh Academy of Finland’s educational menanyai lebih dari 500 remaja mengenai gejala seperti mudah lelah, perasaan tidak mampu sebagai siswa dan sinisme terhadap nilai sekolah. Orangtua juga ditanya mengenai pekerjaan serta kebiasaannya setelah pulang kerja. Orangtua yang lelah secara fisik dan emosional lebih cenderung memiliki anak yang bernasib sama dengannya saat di sekolah. Hal ini dapat membuat anak tidak berminat untuk belajar dan sekolah. Hasil penelitian ini telah dilaporkan dalam European Journal of Developmental Psychology. “Hal ini bisa mempengaruhi pendidikan si anak. Selain itu keuangan keluarga juga menjadi faktor yang penting. Semakin besar tingkat kekhawatiran mengenai keuangan keluarga, maka efeknya juga akan semakin buruk,” ujar Prof Katariina Salmela-Aro, seperti dikutip dari Dailymail, Senin (25/1/2010).

Para ahli di Inggris mengungkapkan hal ini disebabkan karena anak-anak menyerap kekhawatiran orangtuanya serta ada kemungkinan si anak kurang mendapatkan perhatian dari orangtua. “Akibatnya orangtua datang ke rumah dengan keadaan capek dan lelah serta tidak memiliki waktu yang banyak dengan anak-anaknya untuk sekedar berbicara atau mendengar ceritanya. Hal ini juga bisa mempengaruhi kesehatan dan pendidikannya,” ujar Prof Cary Cooper, seorang psikolog kesehatan dari Lancaster University. (ver/ir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: