Menentukan Pola Belajar Anak Melalui Sidik Jari

Minggu, 07/03/2010 09:02 WIB

Menentukan Pola Belajar Anak Melalui Sidik Jari

Vera Farah Bararah – detikHealth

Jakarta, Setiap anak memiliki pola belajar yang berbeda-beda. Jika pola yang dterapkan tidak sesuai dengan karakter si anak maka anak akan sulit untuk menerima pelajaran. Tapi pola belajar anak bisa ditentukan berdasarkan analisis sidik jari si anak.

“Tak jarang orangtua memaksakan anaknya mengikuti les yang tidak diminati anak. Jika orangtua tidak bisa mengenali potensi bakat, motivasi, karakter dan gaya belajar anak maka akan sulit untuk memberi stimulus dan pengarahan yg tepat,” ujar Andrian Benny Hidayat, Direktur Psycho-biometric Lab R&D Talent Spectrum & DIC Fingerprint Analysis, dalam acara kenali gaya belajar yang cocok untuk anak melalui analisa sidik jari di wisma BPPT, Jln Sudirman, Jakarta, Sabtu (6/3/2010).

Andrian menambahkan analisa sidik jari ini adalah sebuah metode pengukuran dengan cara pemindaian (scanning) sidik jari anak untuk mengetahui gaya bekerja otak yang paling dominan dan berkaitan dengan bakat, karakter dan gaya belajar anak. Karena pengenalan bakat anak merupakan investasi modal awal untuk membantu meraih cita-cita si kecil.

Berdasarkan penelitian oleh ahli dermatoglyphics dan neuro-anatomy didapatkan bahwa pola sidik jari bersifat genetis dan telah muncul saat janin dalam kandungan berusia 13-24 minggu.

“Analisis sidik jari tidak mengungkapkan kecerdasan seseorang, tapi hanya mengungkapkan potensi yang ada dalam diri si anak. Dengan pengarahan yang tepat maka bisa meningkatkan kecerdasannya,” ujar Andrian yang lahir di Australia 35 tahun lalu.

Dengan analisis sidik jari dapat diketahui apakah pola belajar anak termasuk yang visual (melihat), auditori (mendengar) atau kinestetik (sentuhan dan gerakan).

A. Gaya belajar visual

  1. Cenderung menggunakan indera penglihatan
  2. Lebih suka membaca
  3. Peka terhadap warna
  4. Duduk tenang saat belajar di tengah situasi yang ribut
  5. Biasanya akan melihat orang lain terlebih dahulu sebelum bertindak.

Kendalanya

  1. Tak suka berbicara di depan umum
  2. Kurang mengingat info yang diberikan secara lisan.

Cara menstimulasinya

  1. Memintanya untuk membayangkan objek yang sedang dipelajari
  2. Meningkatkan motivasi serta percaya dirinya.

B. Gaya belajar auditory

  1. Mudah ingat dari apa yang didengarnya
  2. Senang dibacakan
  3. Mudah mempelajari bahas asing
  4. Dapat membaca dengan baik sehingga ia bisa mengingat dengan baik apa yang baru dibacanya karena secara otomatis ia mendengarkan suaranya sendiri.

Kendalanya

  1. Cenderung banyak omong
  2. Tak bisa belajar dalam suasana ribut
  3. Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya.

Cara menstimulasinya

  1. Bisa dengan melibatkannya dalam kegiatan diskusi
  2. Melakukan review secara verbal
  3. Memberinya pujian secara lisan.

C. Gaya belajar kinestetik

  1. Gemar menyentuh sesuatu yang dijumpainya
  2. Menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar
  3. Banyak gerakan fisik dan koordinasi tubuh yang baik
  4. Saat membaca menunjuk kata-katanya dengan jari tangan
  5. Unggul dalam olahraga dan keterampilan tangan
  6. Menggunakan gerakan tubuh saat mengungkapkan sesuatu.

Kendalanya

  1. Sulit mempelajari hal yang abstrak
  2. Anak tak bisa duduk diam saat belajar
  3. Energinya cukup tinggi sehingga jika tak disalurkan dapat berpengaruh pada konsentrasi belajarnya.

Cara menstimulasinya

  1. Bisa dengan belajar di sekolah yang menganut sistem active learning
  2. Belajar dengan menggunakan model peraga
  3. Bebaskan beraktifitas sebelum belajar
  4. Berikan reward dengan memberinya kesempatan untuk melakukan kegiatan yang disukainya.

“Selain pola belajar yang tepat ada juga faktor lain yang dapat mempengaruhi yaitu motivasi, lingkungan dan juga guru yang mengajar,” ujar Andrian.

Andrian menceritakan ada murid yang memiliki bakat musik tapi nilai musiknya selalu jelek. Ternyata setelah diselidiki ia tidak suka dengan gurunya.

“Dengan memahami potensi bakat anak, kita sebagai orangtua dapat tahu cara terbaik yang bisa ditempuh anak untuk mencapai prestasinya. Selain itu bakat yang lebih kuat dapat dikembangkan dengan tenaga dan biaya serta waktu yang lebih efisien,” tambahnya.

(ver/ir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: