Rahasia Sikap Mental Pengusaha

Oleh Famega Syavira Putri | Yahoo News – Jum, 29 Apr 2011

Banyak orang yang mencoba untuk berwiraswasta, tak semuanya berhasil. Pendiri Grup Saratoga dan Recapital Sandiaga Uno menceritakan rahasia suksesnya.

Pengusaha muda yang juga orang terkaya nomor 27 di Indonesia ini menekankan bahwa sikap mental adalah modal utama bagi calon pengusaha. Sikap mental ini harus dimiliki pengusaha dan calon pengusaha yang ingin berhasil.

Pertama, seorang wirausahawan harus punya pola pikir seperti pengusaha. “Mereka harus punya paradigma yang positif dan optimis,” kata Sandiaga saat ditemui Yahoo! di kantornya, 26 April lalu.

Sandiaga sendiri mulai berwiraswasta setelah dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja pada 1997. Untuk memulai usaha, modal bukan hal yang dinilai penting oleh Sandiaga. Tabu baginya untuk berkata “saya mau mulai berusaha tapi tak ada modal”.

“Kuncinya adalah kemauan. Begitu kemauan ada, harus ada keberanian,” kata dia. Keberanian tersebut akan menjadi modal yang paling utama dengan dukungan ide, rencana mencapai kesuksesan, kemampuan berjejaring dan kepercayaan dari kolega bisnis.

Dengan rangkuman bisnis yang solid tersebut, Sandiaga percaya, bukan pengusaha yang akan mencari modal melainkan modal yang akan menghampiri. Saat mengawali usahanya, Sandiaga mengakui bahwa menjalin usaha memang sangat sulit. Pernah selama enam bulan dia tak mendapatkan satu klien pun. “Sulit sekali mendapatkan kepercayaan dari investor,” kata dia.

Seorang pengusaha juga harus mengubah paradigmanya, bukan lagi sebagai karyawan yang menggantungkan hidupnya dari gaji bulanan. Kondisi terjamin itu membuat karyawan tak suka mengambil risiko. Padahal, seorang pengusaha harus berani mengambil risiko.

“Pengusaha jatuh bangun karena bisnis memang penuh risiko,” kata dia. Sandiaga menekankan bahwa kesuksesan tak pernah instan. Kesuksesan hanya dapat dicapai dengan kerja keras dan pantang menyerah.

Komentar

Memang sih mental boleh, tapi dimana dulu negaranya, kalau disini kan super KKN jadi harus punya jaringan kuat dari sponsor, terutama ortu yg juga harus bermodal kuat dan punya akses bank yang kuat atas referensi ibunya ya bereslah dipercaya bank dan juga tentunya harus pula ada pelicin. Mana ada bank yang mau berikan kredit besar tanpa pelicin, mimpi deh, kecuali PKL dan UKM bawah itupun harus pakai proposal nyelimet yg akan sulit dipenuhi oleh pemohon. Hal yang berbeda dgn di negara maju, jika proposal anda hebat seperti dulu Microsoft, Google, Facebook, dll, pastilah modal yg uber anda. Lha disini siapa yg mau percaya dan uang siapa yang mau uber, he……he. Mental baja, kreatifitas + innovasi, visi jauh ke depan tak ada gunanya jika tanpa referensi sbg jaminan, akses bisnis, perlu pelicin mulai dari bank, perijinan, urus tender, dll, butuh uang besar, dukungan sponsor, rajin cari muka dan dikit jilat, panda berkomunikasi dgn jaringan kelompok bisnis yg sudah didominasi oleh kelompok tertentu. Inilah yg menyebabkan banyak orang lain yg bukan kelompok konglomerat hingga jaringannya ke bawah utk maju seperti Sandiaga, kecuali lewat kreatifitas PKL dan UKM di sektor konsumsi, industri kreatif IT, kultur pertanian padat karya, dll. Inilah kendala yg menyebabkan kalangan menengah ke bawah di luar kelompok mereka untuk maju, apalagi boro-2 mau dipromosikan meski anda punya ide dan kreatifiats hebat…ya tak mau disaingi mereka itu dan hanya diwariskan ke kelluarga dan kelompoknya saja. Tentu beda dgn di AS, Eropa, Jepang, siapapun yang hebat pastilah akan naik dan didukung penuh oleh pemodal seperti kasus Microsoft, Google, Zynga, Facebook, Amazone dan berbagai industri kreatif lainnya yang banyak didukung oleh Modal Ventura tanpa bantuan sektor perbankan umum. Disini modal venturapun sulit karena mungkin sudah terbagi lahannya dgn kelompok penguasa dan pengusaha. kalau mau masuk ke industri manufaktur akan sulit utk bersaing dgn produk China dimana industri disini, termasuk di AS dan Eropa malah kalah bersaing. Jadi mereka itu masuk ke sektor tambang dan perkebunan yang telah dibagi habis oleh mereka sendiri, inilah yg membuat mereka cepat besar tanpa banyak pesaing yg didukung oleh meroketnya harga komoditas tambang dan perkebunan, tapi akibatnya rakyat makin miskin oleh kenaikan berbagai barang konsumsi. Mereka makin kaya, rakyat makin miskin,karena diberi hak negara utk mengeksploitasi SDA tanpa rasa keadilan,belum lagi kalau bikin kerusakanlingkungan…ya rakyat lagi yang sengsara dan mereka hidup mewah dan kaya raya tanpa perlu banyak daya saing tinggi secara profesional, lha hanya minta ijin lokasi, pinjam bank, beli alat berat dan mesin…lalu kuras habis SDA…akh apa sih susahnya…bagi orang lain jika diberi kesempatan yang sama. Nah beda kalau dia mampu bersaing global secara mandiri berhadapan dalam strategi bisnis industri manufaktur yang profesional di pasar global dan bukan hanya penjual SDA semata. Kita khan dianggap maju karena kekayaan SDA yg melimpah, tapi lihat aja Index SDM kita secara rata-2, masih jauh tertinggal dari SDM Asean lain apalagi berkelas global….ya paling kirim TKI, ha……ha.

Maksud dari penulis (modal adalah nomor 2) itu bermaksud kita harus punya semangat dan niat terlebih dahulu yg tinggi dalam berusaha, setelah itu insyaAllah modal akan datang. karena kita telah membuat plan yang sangat bagus, sehingga investor berani meminjamkan dana’a..
keep CHEERS🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: